PROMOSI KESEHATAN
MATERI KELUARGA BERENCANA
MATERI KELUARGA BERENCANA
A. KELUARGA BERENCANA
- Upaya peningkatkan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil yang bahagia sejahtera (Undang-undang No. 10/1992).
- Keluarga Berencana (Family Planning, Planned Parenthood) : suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi.
- WHO (Expert Committe, 1970), tindakan yg membantu individu/ pasutri untuk: Mendapatkan objektif-obketif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan dan menentukan jumlah anak dalam keluarga.
- Tujuan umum adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekutan sosial ekonomi suatu keluarga dengan cara pengaturan kelahiran anak, agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
- Tujuan lain meliputi pengaturan kelahiran, pendewasaan usia perkawinan, peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.
- Kesimpulan dari tujuan program KB adalah: Memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan ibu, anak, keluarga dan bangsa; Mengurangi angka kelahiran untuk menaikkan taraf hidup rakyat dan bangsa; Memenuhi permintaan masyarakat akan pelayanan KB dan KR yang berkualitas, termasuk upaya-upaya menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan anak serta penanggulangan masalah kesehatan reproduksi.
- Keluarga dengan anak ideal
- Keluarga sehat
- Keluarga berpendidikan
- Keluarga sejahtera
- Keluarga berketahanan
- Keluarga yang terpenuhi hak-hak reproduksinya
- Penduduk tumbuh seimbang (PTS)
- Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk menjadi sekitar 1,14 persen per tahun.
- Menurunnya angka kelahiran total (TFR) menjadi sekitar 2,2 per perempuan.
- Menurunnya PUS yang tidak ingin punya anak lagi dan ingin menjarangkan kelahiran berikutnya, tetapi tidak memakai alat/cara kontrasepsi (unmet need) menjadi 6 persen.
- Meningkatnya pesertaKB laki-laki menjadi 4,5persen.
- Meningkatnya penggunaan metode kontrasepsi yang rasional, efektif, dan efisien.
- Meningkatnya rata-rata usia perkawinan pertama perempuan menjadi 21 tahun.
- Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang anak.
- Meningkatnya jumlah keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera-1 yang aktif dalam usaha ekonomi produktif.
- Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan Program KB Nasional.
Ruang lingkup KB antara lain: Keluarga berencana; Kesehatan reproduksi remaja; Ketahanan dan pemberdayaan keluarga; Penguatan pelembagaan keluarga kecil berkualitas; Keserasian kebijakan kependudukan; Pengelolaan SDM aparatur; Penyelenggaran pimpinan kenegaraan dan kepemerintahan; Peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur negara.
Strategi dasar
Strategi operasional
- Peningkatan kapasitas sistem pelayanan Program KB Nasional
- Peningkatan kualitas dan prioritas program
- Penggalangan dan pemantapan komitmen
- Dukungan regulasi dan kebijakan
- Pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas pelayanan
Program keluarga berencana memberikan dampak, yaitu penurunan angka kematian ibu dan anak; Penanggulangan masalah kesehatan reproduksi; Peningkatan kesejahteraan keluarga; Peningkatan derajat kesehatan; Peningkatan mutu dan layanan KB-KR; Peningkatan sistem pengelolaan dan kapasitas SDM; Pelaksanaan tugas pimpinan dan fungsi manajemen dalam penyelenggaraan kenegaraan dan pemerintahan berjalan lancar.
B. KONTRASEPSI
1. PENGERTIAN KONTRASEPSI
Kontrasepsi berasal dari kata “Kontra” yang berarti mencegah atau melawan dan “Konsepsi” yang berarti pertemuan antara sel telur yang matang dan sperma yang mengakibatkan kehamilan. Jadi, kontrasepsi adalah upaya mencegah pertemuan sel telur matang dan sperma untuk mencegah kehamilan.
1. TUJUAN KONTRASEPSI
Pelayanan kontrasepsi mempunyai dua tujuan yaitu:
a. Tujuan umum:
Pemberian dukungan dan pemantapan penerimaan gagasan KB yaitu dihayatinya NKKBS.
b. Tujuan khusus:
Penurunan angka kelahiran yang bermakna.
2. JENIS-JENIS KONTRASEPSI
Kontrasepsi yang baik harus memiliki syarat-syarat antara lain aman, dapat diandalkan, sederhana (sebisa mungkin tidak perlu dikerjakan oleh dokter), murah, dapat diterima oleh orang banyak, dan dapat dipakai dalam jangka panjang. Sampai saat ini belum ada metode atau alat kontrasepsi yang benar-benar 100% ideal.
Jenis-jenis kontrasepsi yang tersedia antara lain:
A. Metode sederhana
a. Tanpa alat
�� Pantang berkala
�� Metode kalender
�� Metode suhu badan basal
�� Metode lendir serviks
�� Metode simpto-termal
�� Coitus interruptus
b. Dengan alat
a. Mekanis (barrier)
�� Kondom pria
�� Barier intra vaginal antara lain : diafragma, kap serviks, spons, dan kondom wanita.
b. Kimiawi
�� Spermisid antara lain : vaginal cresm, vaginal foam, vaginal jelly, vaginal suppositoria,
vaginal tablet, dan vaginal soluble film.
vaginal tablet, dan vaginal soluble film.
B. Metode modern
a. Kontrasepsi hormonal
�� Pil KB
�� AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) / IUD (Intra Uterine Devices)
�� Suntikan KB
�� Susuk KB
b. Kontrasepsi mantap
�� Medis Operatif Pria (MOP)
�� Medis Operatif Wanita (MOW)
Berdasarkan lama efektivitasnya, kontrasepsi dapat dibagi menjadi :
A. MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang), yang termasuk dalam kategori ini adalah jenis
susuk/implant, IUD, MOP, dan MOW.
susuk/implant, IUD, MOP, dan MOW.
B. Non MKJP (Non Metode Kontrasepsi Jangka Panjang), yang termasuk dalam kategori ini
adalah kondom, pil, suntik, dan metode-metode lain selain metode yang termasuk dalam
MKJP.
adalah kondom, pil, suntik, dan metode-metode lain selain metode yang termasuk dalam
MKJP.
Berikut pembahasan singkat mengenai jenis-jenis kontrasepsi tersebut.
1) Kondom pria
Kondom adalah selubung tipis dari karet, vinil, atau produk alamiah dapat berwarna maupun tidak berwarna, biasanya ditambahkan spermisida untuk perlindungan tambahan, serta digunakan untuk menutupi penis sesaat sebelum berhubungan. Mekanisme kerja kondom adalah dengan cara menghalangi masuknya spermatozoa ke dalam traktus genitalia interna wanita. Efektivitas
kondom sendiri tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 3-4 kehamilan per 100 wanita selama tahun pertama. Pemakaian kondom memiliki keuntungan dan kerugian seperti :
Keuntungan kondom :
a. Mencegah kehamilan
b. Memberi perlindungan terhadap Penyakit Menular Seksual (PMS)
c. Dapat diandalkan
d. Sederhana, ringan, disposable, dan mudah digunakan
e. Tidak memerlukan pemeriksaan medis, supervisi, atau follow-up
f. Reversibel
g. Pria ikut aktif dalam kegiatan KB
h. Efektif segera setelah dipasang
i. Tidak mempengaruhi kegiatan laktasi
j. Dapat digunakan sebagai pendukung metode kontrasepsi lain
k. Tidak mengganggu kesehatan
l. Tidak ada efek samping sistemik
m. Mudah didapatkan dan tidak perlu resep dokter
n. Murah karena digunakan dalam jangka pendek
Kerugian kondom :
a. Efektivitas dipengaruhi kesediaan akseptor mematuhi instruksi yang diberikan dan motivasi
akseptor
akseptor
b. Efektivitas tidak terlalu tinggi
c. Perlu menghentikan aktivitas dan spontanitas hubungan seks guna memasang kondom
d. Dapat mengurangi sensitifitas penis sehingga ereksi sukar dipertahankan
2) Pil KB
Pil KB biasanya megandung Estrogen dan Progesteron. Cara kerja pil KB adalah dengan cara menggantikan produksi normal Estrogen dan Progesteron dan menekan hormon yang dihasilkan ovarium dan releasing factor yang dihasilkan otak sehingga ovulasi dapat dicegah. Efektivitas
metode ini secara teoritis mencapai 99% atau 0,1 – 5 kehamilan per 100 wanita pada pemakaian di tahun pertama bila digunakan dengan tepat. Tetapi dalam praktek ternyata angka kegagalan pil masih cukup tinggi yaitu mencapai 0,7 - 7%. Keuntungan dan kerugian pemakaian pil KB antara lain :
Keuntungan pil KB :
a. Efektivitasnya tinggi bila diminum secara rutin
b. Nyaman, mudah digunakan, dan tidak mengganggu senggama
c. Reversibilitas tinggi
d. Efek samping sedikit
e. Mudah didapatkan, tidak selalu perlu resep dokter karena pil KB dapat diberikan oleh petugas
non medis yang terlatih
non medis yang terlatih
f. Dapat menurunkan resiko penyakit-penyalit lain seperti kanker ovarium, kehamilan ektokpik,
dan lain-lain
dan lain-lain
g. Relatif murah
Kerugian pil KB :
a. Efektivitas tergantung motivasi akseptor untuk meminum secara rutin tiap hari
b. Rasa mual, pusing, kencang pada payudara dapat terjadi
c. Efektivitas dapat berkurang bila diminum bersama obat tertentu
d. Kemungkinan untuk gagal sangat besar karena lupa
e. Tidak dapat melindungi dari resiko tertularnya Penyakit Menular Seksual
3) Kontrasepsi suntik
Kontrasepsi suntik yang biasa tersedia adalah Depo-provera yang hanya mengandung Progestin dan diberikan tiap 3 bulan. Cara kerja kontrasepsi suntik yaitu dengan mencegah ovulasi, mengentalkan lerndir serviks, dan menghambat perkembangan siklis endometrium. Efektivitas
kontrasepsi suntik sangat tinggi mencapai 0,3 kehamilan per 100 wanita selama tahun pertama penggunaan. Angka kegagalan metode ini <1 kehamilan per 100 wanita per tahun. Keuntungan dan kerugian metode ini
adalah :
Keuntungan kontrasepsi suntik :
a. Sangat efektif
b. Memberikan perlindungan jangka panjang selama 3 bulan
c. Bila digunakan bersama pil KB dapat mengurangi resiko yang ditimbulkan karena lupa
meminum pil KB
meminum pil KB
d. Tidak mengganggu senggama
e. Bisa diberikan oleh petugas non medis yang terlatih
f. Mengurangi efek samping yang ditimbulkan oleh Estrogen karena metode ini tidak
mengandung Estrogen
mengandung Estrogen
g. Relatif murah
Kerugian kontrasepsi suntik :
a. Berat badan naik
b. Siklus menstruasi kadang terganggu
c. Pemulihan kesuburan kadang-kadang terlambat
4) Susuk / implant
Kontrasepsi susuk yang sering digunakan adalah Norplant. Susuk adalah kontrasepsi sub dermal yang mengandung Levonorgestrel (LNG) sebagai bahan aktifnya. Mekanisme kerja Norplant yang pasti belum dapat dipastikan tetapi mungkin sama seperti metode lain yang hanya mengandung Progestin. Norplant memiliki efek mencegah ovulasi, mengentalkan lender serviks, dan menghambat perkembangan siklis endometrium.
Efektivitas
Norplant sangat tinggi mencapai 0,05 – 1 kehamilan per 100 wanita dalam tahun pertama pemakaian. Angka kegagalan Norplant <1 kehamilan per 100 wanita per tahun dalam 5 tahun pertama pemakaian. Angka kegagalan ini lebih rendah bila dibandingkan dengan metode barier, pil KB, dan IUD.
Norplant sangat tinggi mencapai 0,05 – 1 kehamilan per 100 wanita dalam tahun pertama pemakaian. Angka kegagalan Norplant <1 kehamilan per 100 wanita per tahun dalam 5 tahun pertama pemakaian. Angka kegagalan ini lebih rendah bila dibandingkan dengan metode barier, pil KB, dan IUD.
Keuntungan dan kerugian Norplant antara lain :
Keuntungan susuk :
a. Norplant merupakan metode kontrasepsi yang sangat efektif
b. Tidak merepotkan dan tidak mengganggu senggama
c. Resiko untuk lupa lebih kecil dibandingkan pil KB dan suntikan karena Norplant dipasang tiap
5 tahun
5 tahun
d. Mudah diangkat dan segera setelah diangkat kesuburan akseptor akan kembali
e. Pemasangan dapat dilakukan oleh petugas non medis yang terlatih
f. Dapat mengurangi efek samping yang ditimbulkan oleh Estrogen karena Norplant tidak
mengandung Estrogen
mengandung Estrogen
g. Lebih efektif secara biaya karena walaupun harganya mahal tetapi masa pemakaiannya
mencapai 5 tahun.
mencapai 5 tahun.
Kerugian Norplant :
a. Efektivitas dapat berkurang bila digunakan bersama obat-obatan tertentu
b. Merubah siklus haid dan meningkatkan berat badan
c. Tergantung pada petugas
d. Tidak melindungi dari resiko tertularnya PMS
5) AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) atau IUD (Intra Uterine Devices)
AKDR adalah kontrasepsi yang terbuat dari plastik halus berbentuk spiral atau berbentuk lain yang dipasang di dalam rahim dengan memakai alat khusus oleh dokter atau paramedis lain yang terlatih. Mekanisme kerja AKDR belum diketahui tetapi kemungkinan AKDR menyebabkan perubahan-perubahan seperti munculnya sel-sel radang yang menghancurkan blastokis atu spermatozoa, meningkatkan produksi prostaglandin sehingga implantasi terhambat, serta bertambah cepatnya pergerakan ovum di tuba falopii.
Efektivitas
IUD mencapai 0,6 – 0,8 kehamilan per 100 wanita selama tahun pertama penggunaannya. Angka kegagalan IUD 1 – 3 kehamilan per 100 wanita per tahun. Keuntungan dan kerugian pemakaian AKDR antara lain :
Keuntungan AKDR :
a. Efektivitas tinggi
b. Dapat memberikan perlindungan jangka panjang sampai dengan 10 tahun
c. Tidak mengganggu hubungan seksual
d. Efek samping akibat Estrogen dapat dikurangi karena AKDR hanya mengandung Progestin
e. Tidak ada kemungkinan gagal karena kesalahan akseptor KB
f. Reversibel
g. Dapat disediakan oleh petugan non medis terlatih
h. Akseptor hanya kembali ke klinik bila muncul keluhan
i. Murah
Kerugian AKDR :
a. Perlunya pemeriksaan pelvis dan penapisan PMS sebelum pemasangan
b. Butuh pemerikasaan benang setelah periode menstruasi jika terjadi kram, bercak, atau nyeri.
c. Akseptor tidak dapat berhenti menggunakan kapanpun ia mau
6) Metode Operatif Pria (MOP)
MOP merupakan suatu metode kontrasepsi operatif minor yang aman, sederhana, dam sangat efektif, memakan waktu operasi relatif singkat dan tidak memerlukan anestesi umum. MOP dilakukan dengan cara memotong vas deferens sehingga sperma tidak dapat mencapai air mani dan air mani yang dikeluarkan tidak mengandung sperma.
Efektivitas
sangat tinggi mencapai 0,1 – 0,15 kehamilan per 100 wanita selama tahun pertama pemakaian. Angka kegagalan <1 kehamilan per 100 wanita. Keuntungan dan kerugian MOP antara lain :
Keuntungan MOP :
a. Sangat efektif
b. Tidak mengganggu senggama
c. Tidak ada perubahan fungsi seksual
d. Baik untuk klien yang bila mengalami kehamilan akan membahyakan jiwanya
e. Murah
Kerugian MOP :
a. Permanen, kesuburan tidak dapat kembali normal
b. Efek tertunda sampai 3 bulan atau 20 kali ejakulasi
c. Nyeri setelah prosedur serta komplikasi lain akibat pembedahan dan anestesi
d. Hanya dapat dilakukan oleh dokter yang terlatih
e. Tidak memberi perlindungan terhadap PMS
7) Metode Operatif Wanita (MOW)
MOW adalah tindakan operasi minor untuk mengikat atau memotong kedua tuba falopii sehingga ovum dari overium tidak akan mencapai uterus dan tidak akan bertemu dengan spermatozoa.
Efektivitas
MOW sekitar 0,5 kehamilan per 100 wanita selama tahun pertama pemakaian, sedikit lebihrendah dibandingkan MOP. Keuntungan dan kerugian MOW antara lain :
Keuntungan MOW :
a. Sangat efektif
b. Segera efektif
c. Permanen
d. Tidak mengganggu senggama
e. Baik untuk klien yang bila mengalami kehamilan akan membahyakan jiwanya
f. Pembedahan sederhana dan hanya perlu anestesi lokal
g. Tidak ada efek samping jangka panjang
h. Tidak ada gangguan seksual
Kerugian MOW :
a. Permanen
b. Nyeri setelah prosedur serta komplikasi lain akibat pembedahan dan anestesi
c. Hanya dapat dilakukan oleh dokter yang terlatih
d. Tidak memberi perlindungan terhadap PMS
e. Meningkatkan resiko kehamilan ektokpik 3, 4, 14, 19, 16
3. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMILIHAN JENIS KONTRASEPSI
Faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang untuk memilih jenis kontrasepsi yang digunakan antara lain :
a. Faktor pasangan
�� Umur
�� Gaya Hidup
�� Frekuensi senggama
�� Jumlah keluarga yang diinginkan
�� Pengalaman dengan metode kontrasepsi yang lalu
�� Sikap kewanitaan dan kepriaan
b. Faktor kesehatan
�� Status kesehatan
�� Riwayat haid
�� Riwayat keluarga
�� Pemeriksaan fisik
�� Pemeriksaan panggul
c. Faktor metode kontrasepsi
�� Efektivitas
�� Efek samping
�� Biaya 2
Pada dasarnya, pemilihan jenis kontrasepsi yang akan digunakan oleh akseptor dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor yang berasal dari pihak calon akseptor dan faktor yang berasal dari pihak medis/petugas KB. Faktor-faktor tersebut antara lain :
a. Pihak calon akseptor
�� Efektivitas, baik efektivitas teoritis, efektivitas dalam praktek, maupun efektivitas biaya
�� Keamanan, masing-masing jenis kontrasepsi memiliki keamanan yang berbeda-beda.
b. Pihak medis / petugas KB
Pihak medis atau petugas KB perlu memberikan konseling kepada calon akseptor tentang keuntungan dan kerugian jenis kontrasepsi yang dipilih, mengetahui indikasi maupun kontra indikasi dari tiap-tiap jenis kontrasepsi, mengetahui efek samping masing-masing jenis kontrasepsi, serta memberikan pengertian tentang pentingnya kerja sama suami-istri dalam program KB.
Selain faktor-faktor di atas, ternyata pemilihan jenis kontrasepsi yang akan digunakan juga tergantung dari kebutuhan masing-masing akseptor. Kebutuhan akseptor tersebut disesuaikan dengan Masa Reproduksi Sehat. Masa Reproduksi Sehatwanita dibagi menjadi 3 periode yaitu : kurun reproduksi muda (15-19 tahun) merupakan tahap menunda kehamilan, kurun reproduksi sehat (20-35 tahun) merupakan tahap untuk mrnjarangkan kehamilan, dan kurun reproduksi tua (36-45) tahun merupakan tahap untuk mengakhiri kehamilan.
C. TINGKAT KESEJAHTERAAN
Tingkat kesejahteraan adalah suatu tingkatan yang menyatakan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materiil yang layak, bertakwa pada Tuhan YME, memiliki hubungan yang serasi, selaras, dan seimbang antara keluarga, masyarakat dan lingkungan (BKKBN, 1999). Penentuan tingkat kesejahteraan dapat dilakukan dengan berbagai indikator. Indikator-indikator yang digunakan hendaknya memenuhi syarat :
�� Strategis
Indikator yang dipilih merupakan ciri yang paling menonjol dari tiap tahapan keluarga.
�� Sensitif
Indikator yang digunakan dapat memberikan respon yang cepat terhadap setia perubahan yang terjadi.
�� Applicable
Indikator yang digunakan mudah dilaksanakan oleh semua petugas.
�� Observable
Indikator yang digunakan apat diamati dan dilihat sehingga tidak sulit untuk mengenalinya di lapangan.
�� Measurable
Indikator yang digunakan dapat diukur dengan satuan ukuran yang jelas.
�� Mutable
Indikator yang digunakan dapat diubah bila ada program baru.Indikator yang dipakai dalam penelitian ini adalah indikator yang ditetapkan oleh BKKBN. Indikator Kesejahteraan Keluarga yang ditetapkan oleh BKKBN pada dasarnya berangkat dari pokok pikiran yang terkandung didalam undang-undang no.10 Tahun 1992. Indikator ini dianggap cukup baik karena mudah digunakan oleh semua petugas termasuk kader dengan tingkat pendidikan yang rendah.
Tingkat kesejahteraan yang ditetapkan oleh BKKBN dikelompokkan berdasarkan 23 indikator. Dua puluh tiga indikator tersebut adalah :
1. Keluarga melaksanakan ibadah menurut agama yang dianut.
2. Pada umumnya seluruh anggota keluarga makan dua kali sehari atau lebih.
3. Seluruh anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk di rumah, bekerja/sekolah dan
bepergian.
bepergian.
4. Bagian terluas dari lantai rumah bukan dari tanah.
5. Bila anak atau anggota keluarga yang lain sakit dibawa ke petugas/sarana kesehatan.
Demikian pula bila Pasangan Usia Subur (PUS) ingin ber-KB dibawa ke ke petugas atau
sarana kesehatan dan diberi obat atau metode KB modern.
Demikian pula bila Pasangan Usia Subur (PUS) ingin ber-KB dibawa ke ke petugas atau
sarana kesehatan dan diberi obat atau metode KB modern.
6. Anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur menurut agama yang dianut masing-
masing.
masing.
7. Sekurang-kurangnya sekali seminggu keluarga menyediakan daging atau ikan atau telur
sebagai lauk pauk.
sebagai lauk pauk.
8. Seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru setahun terakhir.
9. Luas lantai rumah paling kurang 8,0 m2 untuk tiap penghuni rumah.
10. Seluruh anggota keluarga dalam tiga bulan terakhir berada dalam keadaan sehat sehingga
dapat melaksanakan tugas dan fungsinya mesing-masing.
dapat melaksanakan tugas dan fungsinya mesing-masing.
11. Paling kurang satu orang anggota keluarga yang berumur 15 tahun ke atas mempunyai
penghasilan tetap.
penghasilan tetap.
12. Seluruh anggota keluarga yang berumur 10-60 tahun bisa membaca tulisan latin.
13. Seluruh anak berusia 6-15 tahun saat ini (waktu pendataan) bersekolah.
14. Bila anak hidup dua orang atau lebih pada keluarga yang masih PUS, saat ini mereka
memakai kontrasepsi (kecuali dalam keadaan hamil).
memakai kontrasepsi (kecuali dalam keadaan hamil).
15. Mempunyai upaya untuk meningkatkan pengetahuan agama.
16. Sebagian dari penghasilan keluarga dapat disisihkan untuk tabungan keluarga.
17. Biasanya makan bersama paling kurang sekali sehari dan kesempatan ini dimanfaatkan untuk
berkomunikasi antar anggota keluarga.
berkomunikasi antar anggota keluarga.
18. Ikut serta dalam kegiatan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.
19. Mengadakan rekreasi bersama di luar rumah paling kurang sekali dalam enam bulan.
20.Memperoleh berita dengan membaca surat kabar, majalah, mendengarkan radio atau
menonton televisi.
menonton televisi.
21. Anggota keluarga mampu mempergunakan sarana transportasi.
22. Keluarga atau anggota keluarga secara teratur memberikan sumbangan bagi kegiatan sosial
masyarakat dalam bentuk materi.
masyarakat dalam bentuk materi.
23. Kepala keluarga atau anggota keluarga aktif sebagai pengurus perkumpulan, yayasan, atau
institusi masyarakat lainnya.
institusi masyarakat lainnya.
Penentuan indikator yang digunakan mengacu kepada berbagai tingkat kebutuhan baik yang menyangkut kebutuhan dasar (1 s.d. 5), kebutuhan sosial psikologis (6 s.d. 14), maupun kebutuhan pengembangannya (15 s.d. 23). 17, 18 Berdasarkan 23 indikator yang ditetapkan oleh BKKBN, tingkat kesejahteraan keluarga dapat dikelompokkan menjadi 5 kelompok yaitu Keluarga Pra Sejahtera, Keluarga Sejahtera I, Keluarga Sejahtera II, Keluarga Sejahtera III, dan
Keluarga Sejahtera III Plus. 3, 17, 18, 19
D. UMUR ISTRI
Umur dalam hubungannya dengan pemakaian KB berperan sebagai factor intrinsik. Umur berhubungan dengan struktur organ, fungsi faaliah, komposisi biokimiawi termasuk sistem hormonal seorang wanita. Perbedaan fungsi faaliah, komposisi biokimiawi, dan sistem hormonal pada suatu periode umur menyebabkan perbedaan pada kontrasepsi yang dibutuhkan. 19 Masa reproduksi (kesuburan) seorang wanita dibagi menjadi 3, yaitu:
a. Masa menunda kehamilan (kesuburan)
b. Masa mengatur kesuburan (menjarangkan)
c. Masa mengakhiri kesuburan (tidak hamil lagi).
Masa reproduksi (kesuburan) ini merupakan dasar pola penggunaan kontrasepsi secara rasional.
A. Masa Menunda Kehamilan
Sebaiknya istri menunda kehamilan pertama sampai umur 20 tahun.
Ciri-ciri kontrasepsi yang sesuai:
a. Kembalinya kesuburan yang tinggi artinya kembalinya kesuburan dapat dijamin 100%. Ini penting karena akseptor belum mempunyai anak.
b. Efektifitas yang tinggi. Hal ini penting karena kegagalan akan menyebabkan tujuan KB tidak tercapai.
Prioritas kontrasepsi yang sesuai:
1. Pil
2. AKDR
3. Cara sederhana (kondom, spermisida)
B. Masa Mengatur Kesuburan
Umur melahirkan terbaik bagi istri adalah umur 20 - 30 tahun. 20
Ciri-ciri kontrasepsi yang sesuai:
a. Kembalinya kesuburan (reversibilitas) cukup.
b. Efektifitas cukup tinggi.
c. Dapat dipakai 2 - 4 tahun, sesuai dengan jarak kehamilan yang aman untuk ibu dan anak.
d. Tidak menghambat produksi ASI (air susu ibu) . Ini penting karena ASI adalah makanan terbaik bagi bayi sampai umur 2 tahun. Penggunaan ASI mempengaruhi angka kesakitan bayi/anak.
Prioritas kontrasepsi yang sesuai:
1. AKDR
2. Suntikan
3. Mini pil
4. Pil
5. Cara sederhana
6. Norplant (AKBK)
7. Kontap ( jika umur sekitar 30 tahun)
C. Masa Mengakhiri Kesuburan
Pada umumnya setelah keluarga mempunyai 2 anak dan umur istri telah melebihi 30 tahun, sebaiknya tidak hamil lagi.
Ciri-ciri kontrasepsi yang sesuai:
a. Efektifitas sangat tinggi. Kegagalan menybabkan terjadi kehamilan dengan resiko tinggi bagi ibu dan anak. Selain itu akseptor sudah tidak ingin mempunyai anak lagi.
b. Dapat dipakai untuk jangka panjang.
c. Tidak menambah kelainan/penyakit yang sudah ada. Pada masa umur tua kelainan seperti penyakit jantung, darah tinggi, dan metabolic meningkat. Oleh karena itu, sebaiknya tidak memberikan obat/kontrasepsi yang menambah kelainan/penyakit tersebut.
Prioritas kontrasepsi yang sesuai:
1. Kontap
2. AKDR
3. Norplant (AKBK)
4. Suntikan
5. Mini pil
6. Pil
7. Cara sederhana.
Tabel Matriks Paritas Umur
Umur Jumlah anak | ≤ 20 thn | 20-24 thn | 25-29 thn | 30-34 thn | ≥ 35 thn |
0 | Pil AKDR mini Cara sederhana | Pil AKDR mini Cara sederhana | Tanpa kontrasepsi | Tanpa kontrasepsi | Resiko tinggi |
1 | AKDR Pil Suntik Cara sederhana | AKDR Pil Suntik Cara sederhana | AKDR implant Suntik Pil Cara sederhana | AKDR implant Suntik Pil Cara sederhana | Resiko tinggi |
2 | AKDR Suntikan Implant Pil Cara sederhana | AKDR Suntikan Implant Pil Cara sederhana | Kontap AKDR Suntikan Implant Pil | Kontap AKDR Suntikan Implant Pil | Kontap AKDR Implant Cara sederhana |
3 | Kontap Implant AKDR Suntikan Pil | Kontap Implant AKDR Suntikan Pil | Kontap Implant AKDR Suntikan | Kontap Implant AKDR Suntikan | Kontap Implant AKDR Suntikan |
Keterangan: * Hati-hati, mungkin perlu konsultasi dengan dokter ahli.
E. JUMLAH ANAK
Jumlah anak yang dimaksud di sini adalah jumlah anak yang masih hidup yang dimiliki seorang wanita sampai saat wawancara dilakukan (BPS, 2009). Setiap anak memiliki nilai, maksudnya setiap anak merupakan cerminan harapan serta keinginan orang tua yang menjadi pedoman dari pola pikir, sikap maupun perilaku dari orang tua tersebut. Dengan demikian, setiap anak yang dimiliki oeh pasangan suami istri akan memberi pertimbangan tentang apakah mereka ingin memiliki anak dan jika ingin, berapa jumlah yang diinginkan.
Jumlah anak berkaitan erat dengan tingkat kesejahteraan keluarga. Pada keluarga dengan tingkat kesejahteraan tinggi umumnya lebih mementingkan kualitas anak daripada kuantitas anak. Sementara itu pada keluarga miskin, anak dianggap memiliki nilai ekonomi. Umumnya keluarga miskin memiliki banyak anak dengan harapan anak-anak tersebut dapat membantu orang tuanya bekerja. Jumlah anak juga dapat dipengaruhi oleh faktor kebudayaan setempat yang menganggap anak laki-laki lebih bernilai dari anak perempuan. Hal ini mengkibatkan pasangan suami istri berusaha untuk menambah jumlah anak mereka jika belum mendapatkan anak lakilaki.
Jumlah anak berkaitan erat dengan program KB karena salah satu misi dari program KB adalah terciptanya keluarga dengan jumlah anak yang ideal yakni dua anak dalam satu keluarga, laki-laki maupun perempuan sama saja. Para wanita umumnya lebih menyadari bahwa jenis kelamin anak tidak penting sehingga bila jumlah anak sudah dianggap ideal maka para wanita cenderung untuk mengikuti program KB. Dengan demikian, jenis kontrasepsi yang banyak digunakan adalah jenis kontrasepsi untuk wanita.
F. JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT (JAMKESMAS)
Jamkesmas adalah kebijakan yang sangat efektif untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat dan meningkatkan aksesibilitas masyarakat miskin terhadap pelayanan kesehatan yang tersedia. Jankesmas diharapkan dapat mempercepat pencapaian sasaran pembangunan kesehatan dan peningkatan derajat kesehatan yang optimal. Sasaran Jamkesmas adalah seluruh masyarakat miskin, sangat miskin, dan mendekati miskin yang diperkirakan jumlahnya mencapai 76,4 juta (Depkes, 2008). Sumber dana Jamkesmas adalah APBN Depkes.
Dengan adanya Jamkesmas, keluarga miskin akan mendapatkan pelayanan KB secara cuma-cuma baik obat maupun alat kontrasepsi. Program ini dimaksudkan agar keluarga miskin tidak kesulitan dalam mengakses program KB, karena bila pertambahan penduduk tidak dapat dikendalikan, maka beban pembangunan akan bertambah.
Pelayanan yang diberikan Jankesmas bersifat komprehensif berjenjang. Komprehensif artinya meliputi pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Berjenjang artinya pelayanan diberikan dengan sistem rujukan mulai dari tingkat pelayanan kesehatan yang paling rendah yakni Puskesmas sampai ke pelayanan oleh dokter spesialis di Rumah Sakit Umum. Pelayanan KB gratis termasuk dalam pelayanan yang diberikan di tingkat Puskesmas kecuali untuk jenis MOW dan MOP yang harus dirujuk ke rumah sakit.
G. PENDIDIKAN
Faktor pendidikan seseorang sangat menentukan dalam pola pengambilan keputusan dan penerimaan informasi dari pada seseorang yang berpendidikan rendah (Broewer, 1993). Pendidikan juga akan mempengaruhi pengetahuan dan persepsi seseorang tentang pentingnya suatu hal, termasuk dalam perannya dalam program KB.
Pada akseptor KB dengan tingkat pendidikan rendah, keikutsetaannya dalam program KB hanya ditujuakan untuk mengatur kelahiran. Sementara itu pada akseptor KB dengan tingkat pendidikan tinggi, Keikutsertaannya dalam program KB selain untuk mengatur kelahiran juga untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga karena dengan cukup dua anak dalam satu keluarga dan laki-laki atau perempuan sama saja maka keluarga kecil bahagia dan sejahtera dapat tercapai dengan mudah. Hal ini dikarenakan seseorang dengan tingkat pendidikan lebih tinggi memiliki pandangan yang lebih luas tentang suatu hal dan lebih mudah untuk menerima ide atau cara kehidupan baru. Dengan demikian, tingkat pendidikan juga memiliki hubungan dengan pemilihan jenis kontrasepsi yang akan digunakan.
H. TINGKAT PENGETAHUAN
Salah satu pelayanan yang tersedia dalam program KB adalah pelayanan kontrasepsi. Pelayanan kontrasepsi akan berhasil dengan baik bila masyarakat mengenal berbagai jenis kontrasepsi yang tersedia.
Akan tetapi, pengenalan berbagai jenis kontrasepsi ini cukup sulit karena hal ini menyangkut pola pengambilan keputusan dalam masyarakat itu sendiri. Proses pengambilan keputusan untuk menerima suatu inovasi meliputi empat tahap yaitu tahap pengetahuan (knowledge), tahap persuasi (persuasion), tahap pengambilan keputusan (decision), dan tahap konfirmasi (confirmation) (Rogers,1973, 79). Suatu inovasi dapat diterima maupun ditolak setelah melalui tahap-tahap tersebut. Inovasi ditolak bila inovasi tersebut dipaksakan oleh pihak lain, inovasi tersebut tidak dipahami, inovasi tersebut dinilai sebagai ancaman terhadap nilai-nilai penduduk (Spicer, 1952, hal 18 dalam Horton & Hunt, 1990, 224). Sementara itu, inovasi yang diterima tidak akan diterima secara menyeluruh tetapi bersifat selektif dengan berbagai macam pertimbangan (Horton & Hunt, 1990, 224). 27 Identitas agen perubahan (inovator) juga akan mempengaruhi penerimaan atau penolakan terhadap suatu inovasi. Inovasi yang berasal dari orang yang berada pada puncak skala prestise dan sistem kekuasaan canderung menyebar ke bawah dengan cepat, sebaliknya inovasi yang bermula dari orang yang berstatus rendah cenderung mencapai bagian atas secara lambat dan sangan sulit terjadi (Horton & Hunt, 1990,
230).
Tingkat pengetahuan masyarakat akan mempengaruhi penerimaan program KB di masyarakat. Studi yang dilakukan oleh Anne R Pebley dan James W Breckett (1982) menemukan bahwa ”Sekali wanita mengetahui tempat pelayanan kontrasepsi, perbedaan jarak dan waktu bukanlah hal yang penting dalam menggunakan kontraseps, dan mempunyai hubungan yang signifikan anatara pengetahuan tentang tempat pelayanan dan metode kontrasepsi yang digunakan. Wanita yang mengetahui tempat pelayanan kontrasepsi lebih sedikit menggunakan metode kontrasepsi tradisional.” Pengetahuan yang benar tentang program KB termasuk tentang berbagai jenis kontrasepsi akan mempertinggi keikutsertaan masyarakat dalam program KB.
I. DUKUNGAN PASANGAN
Pelaksanaan program KB di Indonesia harus memperhatikan hak-hak reproduksi, pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender sesuai dengan kesepakatan yang dibuat pada Konferensi Kependudukan dan Pembangunan di Kairo tahun 1994. Sosialisasi mengenai hak-hak reproduksi dan kesetaraan gender menjadi kegiatan yang selalu menjadi perhatian dalam pelaksanaan program, demikian pula halnya dalam pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi.
Isu gender adalah suatu kondisi yang menunjukkan kesenjangan wanita dan pria dalam berbagai bidang kehidupan. Pada umumnya kesenjangan ini dapat dilihat dari faktor akses, partisipasi, manfaat dan pengambilan keputusan (kontrol). Dalam pelaksanaan program keluarga berencana selama ini, isu gender yang sangat menyolok adalah :
1. Akses pria terhadap informasi dan pelayanan KB masih sangat terbatas (hanya 39% pria tahu tentang vasektomi dan lebih dari 88% tahu tentang berbagai metode KB bagi wanita, serta menganggap KB sebagai urusan wanita).
2. Peserta KB pria baru mencapai 1,3% dari total 58,3% peserta KB.
3. Sampai saat ini pria yang mengetahui manfaat KB bagi diri sendiri dan keluarganya masih sangat sedikit.
4. Masih dominannya suami dalam pengambilan keputusan KB dan kesehatan reproduksi.
Kesenjangan gender merupakan suatu kondisi ketidakseimbangan hubungan antara pria dan wanita dalam pelaksanaan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi, sehingga salah satu pihak merasa dirugikan karena tidak dapat berpartisipasi dan memperoleh menfaat dari pelayanan tersebut. Ada tidaknya kesenjangan dalam KB dan kesehatan reproduksi dapat dilakukan melalui proses analisis gender, antara lain dapat dilihat dari faktor akses (jangkauan), manfaat, partisipasi (keikutsertaan) serta pengambilan keputusan (kontrol). Berdasarkan uraian di atas, pria seolah terdiskriminasi dalam pelayanan KB dan kesehatan reproduksi. Hal ini dapat dilihat dari :
�� Keikutsertaan pria dalam KB saat ini baru mencapai 1,3% (SDKI 2002-2003)
�� Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi bagi pria masih sangat terbatas
�� Adanya anggapan yang salah tentang KB, KB dianggap sebagai urusan wanita
�� Hanya sekitar 39% pria tahu tentang vasektomi
Hal ini terjadi karena beberapa alasan, antara lain :
�� Pelaksanaan program KB masa lalu yang lebih diarahkan untuk mengatasi tingginya angka
kematian ibu sehingga ibu menjadi sasaran pokok program
kematian ibu sehingga ibu menjadi sasaran pokok program
�� Terbatasnya sarana pelayanan pria: hanya 4% tempat pelayanan yang melayani pria (studi
Wibowo,2002)
Wibowo,2002)
�� Rendahnya pengetahuan pria tentang KBdan kesehatan reproduksi antara lain karena masih
sangat terbatasnya informasi tentang kontrasepsi pria dan kesehatan reproduksi
sangat terbatasnya informasi tentang kontrasepsi pria dan kesehatan reproduksi
�� Terbatasnya jenis kontrasepsi pria (hanya kondom dan vasektomi) menjadikan pria enggan
untuk menjadi peserta KB.
untuk menjadi peserta KB.
�� Anggapan masyarakat tentang KB merupakan urusan wanita
�� Tingginya dominasi suami dalam pengambilan keputusan perencanaan jumlah dan jarak
kelahiran
kelahiran
�� Masih terbatasnya pengetahuan laki-laki dan perempuan mengenai kesetaraan dan keadilan
gender dalam KB dan kesehatan reproduksi
gender dalam KB dan kesehatan reproduksi
Ketidaksetaraan gender dalam bidang KB dan kesehatan reproduksi akan berpengaruh pada keberhasilan program. Salah satu upaya untuk mengurangi ketidaksetaraan gender adalah suami atau istri diharapkan dapat menjadi motivator bagi suami atau istrinya untuk menjadi akseptor KB dan jika memungkinkan menjadi motivator bagi masyarakat luas.
I. AGAMA
Program KB tidak hanya menyangkut masalah demografi dan klinis tetapi juga dimensi sosial seperti agama, norma masyarakat, budaya, dan lain-lain. Oleh karena itu, agar program KB dapat berjalan dengan lancar diperlukan pendekatan secara menyeluruh terhadap faktor-faktor di atas termasuk pendekatan kepada tokohtokoh agama. Peran tokoh agama dalam program KB sangat penting karena peserta KB memerlukan pegangan, pengayoman, dan dukungan rohani yang kuat yang hanya dapat diberikan oleh tokoh agama. Pada awalnya, program KB banyak ditentang oleh tokoh-tokoh agama. Tetapi akhirnya para tokoh agama tersebut mulai dapat menerima setelah para diberi pengertian bahwa program KB tidak bertentangan dengan agama dan merupakan salah satu upaya untuk memerangi kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan ketidakpedulian masyarakat.
Program KB juga sudah mendapat dukungan dari Departemen Agama Republik Indonesia. Hal ini dapat terlihat dengan telah ditandatanganinya Memorandum of Understanding (MoU) Nomor 1 Tahun 2007 dan Nomor: 36/HK.101/F1/2007 tentang Advokasi, Komunikasi, Informasi dan Edukasi Program Keluarga Berencana Nasional melalui Peran Lembaga Keagamaan, pada 9 Februari 2007, yang berlaku sampai dengan 31 Desember 2009.
Pandangan setiap agama terhadap KB berbeda-beda sesuai dengan ajarannya masing-masing. Agama Islam memperbolehkan KB dengan alasan KB dianggap penting untuk menjaga kesehatan ibu dan anak, menunjang program pembangunan kependudukan lainnya dan menjadi bagian dari hak asazi manusia. Tetapi ada juga beberapa orang yang memiliki pandangan KB tidak boleh dilakukan dengan alasan Al Qur’an tidak membolehkan pemakaian alat kontrasepsi yang dianggap sebagai membunuh bayi atau agama Islam menginginkan agar Islam mempunyai umat yang besar dan kuat. Selain itu, ada jenis kontrasepsi (IUD) yang dihindari oleh umat Islam
karena untuk pemasangannya harus membuka aurat. Agama Hindu memandang bahwa setiap kelahiran harus membawa manfaat maka kelahiran harus diatur jaraknya dengan mengikuti program KB. Agama Buddha memandang setiap manusia pada dasarnya baik dan tidak melarang umatnya mengikuti program KB demi terwujudnya kesejahteraan keluarga. Agama Kristen Protestan tidak melarang umatnya mengikuti program KB. Namun, agama Katolik masih menjadi oposisi utama program KB karena hanya menerima abstinensia dan pantang berkala (hubungan seksual hanya dilakukan pada masa tidak subur dalam siklus bulanan seorang wanita) sebagai metode keluarga berencana yang sesuai dengan pandangan gereja dan menolak secara tegas metode KB lainnya. Hal ini dikarenakan agama Katolik memiliki pandangan kesejahteraan keluarga diletakkan dan diwujudkan dalam pemahaman holistik sesuai dengan kehendak Allah.